Categories


Authors

archive Block
This is example content. Double-click here and select a page to create an index of your own content. Learn more
Kena Scam Tuk-Tuk di India

Kena Scam Tuk-Tuk di India

Open Up India (Part 2)

20 Juli 2016

Saya, Ekal, dan Keket akhirnya mendarat di New Delhi, India dengan pesawat Air Asia. Imigrasi berjalan lancar dengan menggunakan e-visa yang kami apply jauh-jauh hari dengan melampirkan beberpa persayaratan tanpa harus datang ke keduataan India di Jakarta. Pertanyaan yang berkesan dari petugas imigrasi kepada saya saat petugas imigrasi mengatakan terkesan dengan nama saya yang merupakan campuran antara bahasa Hindi dan Arab/Muslim.

Setelah selesai proses imigrasi, kami langsung menuju ke peron kereta api bandara, yang malam itu merupakan kereta terakhir yang menuju kota. Waktu di New Delhi menunjukkan sekita pukul 10 malam, not a good sign. Keadaan HP kami bertiga waktu itu telah tidak ada sinyal, kami tak menemukan tempat membeli SIM card baru di bandara, kami hanya mengandalkan pengetahuan Ekal, sebagai orang yang bertanggung jawab atas perjalanan kami di kota pertama ini.

Ekal sudah menyimpan data penginapan kami termasuk nama penginapan, contact person, alamat, namun sayangnya dia tidak memperkirakan bahwa pada malam tersebut Delhi Metro yang menjadi andalan telah tidak beroperasi, padahal patokan penginapan kami adalah salah satu Stasiun Metro. Setelah berdiskusi, akhirnya keluar dari Central Station New Delhi kami berencana menggunakan Tuk-Tuk dan disinilah nestapa itu dimulai.

 Phoyo by @rohitmunshi on unsplash.com

Phoyo by @rohitmunshi on unsplash.com

Senyum kami sumringah saat menaiki Tuk-Tuk pada 5 menit pertama, supir Tuk-Tuk menanyakan rencana kami selama di India, dengan bodohnya kami menjawab seaadanya termasuk kata-kata "baru pertama kali ke India" keluar tanpa sadarnya. Sepuluh menit kemudian supir Tuk-Tuk mulai "acting" dengan mengatakan jalanan ditutup karena akan ada festival esok hari, kami percaya. Setelah muter-muter gak jelas tetiba kami masuk gang kecil nan sepi, supir Tuk-Tuk menurunkan kami di kantor travel abal-abal, saya mulai waspada, dan saya sudah memastikan SHIT, kami kena scam!

Mau tak mau kami masuk ke ruangan travel abal, dengan penerangan seadanya bak gudang mafia, sang big boss menanyakan, apa nama penginapan kami? dan mau kemana setelah New Delhi? Kami menjawab seadanya, dengan polosnya kami memberikan nomor telfon penginapan kami yang telah Ekal simpan. Big boss menelfon nomor tersebut, bicara dengan bahasa India, lalu memberikan kepada saya untuk berbicara pada orang tersebut.  Saya bertanya "halo Ini Abdul? (nama contact hotel kami)", dia membalas "hay, ya Abdul sedang keluar, ini adiknya" dan dia mengoceh seadanya menyarankan kami mencari penginapan yang direkomendasikan sang Big Boss, SHIT babak kedua, penipuan lanjutan. Kami memutuskan pergi dari travel tersebut dan meminta supir Tuk-Tuk tersebut mengembalikan kami ke Central Station, all of this is bullshit.

Supir Tuk-Tuk kembali membawa kami, dengan pura-pura mencoba jalan lain yang ternyata another way of bullshitnesss! Saat itu yang kami inginkan hanya keluar dari Tuk-Tuk sialan itu, kami berdebat dengan sang supir, dia mulai memalak kami dengan sejumlah harga yang tinggi dengan alasan sudah menyetir keliling kota terlalu lama, padahal yang saya yakini dia sama sekali tidak menuju ke tempat yang kami inginkan. Sang supir tidak mau berhenti kalau kami tidak membayar sesuai kesepakatan dari dia. Sang supir sempat menyiku saya saat saya memegang pundaknya untuk memaksanya berhenti, dia mengancam meninju saya (atau mungkin membunuh saya kalau perlu).

Pikiran kami berjalan begitu cepat, menghitung jumlah uang yang dia minta, memperkirakan uang kami yang tersisa setelah itu, memikirkan berapa dalam rupiah kami akan memberikan supir bau tai ini, waktu sudah menunjukan sekitar jam satu malam, jalan kosong gelap disekitar kami, sekelebat saya melihat sebuah bangunan umum yang nampak masih banyak orang. Saya bergegas bilang, "ok stop here and you can take your money, but you have to stop us here!"

Sang supir Tuk-Tuk itu berhenti, Keket telah menyiapkan uang yang diminta, dan memberikan uang tersebut, setelah mengambil uang tersebut, sempat-sempatnya supir tersebut menawarkan akan membawa kami ke penginapan yang dimaksud kalau kami menambah nya beberapa rupee lagi, wtf in his mind, kami berlalu pergi di jalan sepi menuju bangunan yang tadi sempat kami lihat. Supir tersebut berlalu dengan Tuk-Tuk nya hilang di gelapnya malam.

 Photo by @rohitmunshi on unsplash.com

Photo by @rohitmunshi on unsplash.com

Tidur di lantai marmer putih

Kami masuk ke halaman bangunan tersebut, setelah memperhatikan dengan sekasama, masih banyak orang di dalamnya beberapa menitipkan sendal atau sepatu, lalu ada yang memberikan ikat kepala warna cerah untuk digunakan, orang lain ada yang mulai melakukan ritual, ada yang tertidur di ubin marmer putih pada bagian teras yang lumayan luas.

Ada yang memperhatikan kepolosan dan kelelahan kami saat kami memasuki bangunan tersebut, grup tiga orang anak muda yang "nampak bersahabat". Akhirnya saya memberanikan diri menyapa mereka dan menceritakan apa yang baru saja terjadi, kami juga meminta tolong untuk menghubungi contact person penginapan kami yang ternyata mungkin karena sudah terlalu malam, pihak penginapan tidak mengangkat panggilan kami. Anak muda tersebut menyarankan kami untuk tidur di bangunan tersebut yang ternyata adalah sebuah Sikh Temple, Gurudwara Bangla Sahib yang ternyata pula merupakan tempat spot ziarah no.1 di New Delhi. Tak heran tempat ini buka 24 jam dan malam larut tersebut masih ramai dikunjungi umat yang ngin berdoa.

Kami tak ada pilihan lain, kami mulai menitipkan sandal dan sepatu kami, kami disarankan menitipkan backpack kami, yang kami tolak secara halus karena hanya backpack ini harta kami saat itu, setelah peristiwa yang baru saja terjadi, kewaspadaan terhadap diri dan barang bawaan kami jauh meningkat. Lucunya kami tidak langsung diajak ke ruangan tempat kami bisa merebahkan badan, namun kami diajak mengikuti ritual "haji" agama sikh, tak ada pilihan akhirnya kami ikut saja, ke-awkward-an nya seperti kamu bukan agama muslim namun pas masuk Ka'bah kamu ikut-ikutan tawaf!

Di Gurudwara Bangla Sahib ini terdapat kolam yang begitu luas, entah untuk apa, mungkin air suci atau sejenisnya. Disekitar kolam tersebut terdapat selasar yang cukup luas, disanalah terdapat banyak orang yang ternyata juga "menginap" malam itu. Kami pamit untuk segera merebahkan badan dan pikiran kami kepada ketiga pemuda tadi dan berterima kasih atas "jamuan" dan pertolongannya. Tempat kami dan puluhan orang lain malam itu tidur ya hanya sekedar lantai marmer putih saja, tak ada kata keluh yang keluar dari kami sedikitpun, malam ini sudah cukup luar biasa, malam pertama di India yang tak akan kami lupakan seumur hidup!

Baru tidur dua jam, seorang penjaga membangunkan orang-orang yang tidur malam itu dengan dua ember kosong yang "diledakkan"di telinga para "pengungsi". Selanjutnya petugas menyiram lantai sebagai tanda saatnya membersihkan ruangan tersebut, sekaligus mengusir pengungsi malam, termasuk tiga orang Indonesia nyasar yang masih hilang kesadaran atas apa yang telah terjadi dan mengapa mereka berakhir di tempat ini.

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi India

Pengalaman Naik Kereta Ekonomi India

Mencari Teman Backpacking ke India

Mencari Teman Backpacking ke India