Categories


Authors

archive Block
This is example content. Double-click here and select a page to create an index of your own content. Learn more
Memanjat Gunung Gajah, Pemalang

Memanjat Gunung Gajah, Pemalang

Libur lebaran kemarin saya bersama ayah dan ibu memutuskan ikut dengan ribuan orang untuk mudik. Tujuan kami adalah kota kelahiran ayah yaitu Kota Tegal dengan agenda ziarah kubur kedua orang tua ayah saya yang telah berpulang ke Rahmatullah sejak lama. Sebenarnya berkunjung ke Tegal sudah saya lakukan berkali-kali saat mbah masih hidup, berkali-kali pula kami mencari tempat wisata yang tidak itu-itu saja. Itu-itu saja adalah tempat wisata seperti Pemandian Air Panas Guci, Pantai Puri Indah di utara kota, hingga Alun-Alun Kota Tegal. Seringkali kami mencari opsi lain tempat wisata saat mudik lebaran namun hasilnya malah melancong ke kota lain seperti ke Dieng, Jogja, hingga Bandung.

Sebelum lebaran tiba, saya sempat mengobrol dengan Citra (travelmate di Sawai), dan Citra memberikan wawasan baru mengenai tempat wisata di dekat kampung halaman keluarganya yaitu Pemalang yang tidak banyak orang tau (hmm saya semakin tertarik. Pemalang yang tidak terlalu jauh dari Tegal, bahkan saya masih punya saudara di Warung Pring, Pemalang. Akhirnya setelah beres kontak saudara saya di Warung Pring dan mereka bersedia menemani saya untuk menjelajah Gunung Gajah.

Ami dan Novril, dua keponakan yang akan menemani saya menjelajah Gunung Gajah, sementara bapak ibu saya stay di rumah saudara di Warung Pring, and cherry on top adalah kehadiran Citra yang bisa ikut hari itu karena ternyata Citra tetanggaan sama Ami dan Novril. Waktu menunjukkan sekitar pukul 3 sore, yang menurut saya sedikit sudah terlalu sore karena kami tidak mempertimbangkan waktu mendaki yang cukup "menantang".

Kami berangkat dari Warung Pring ke arah utara, sumpah maapkeun saya lupa saya lewat jalur apa dan dimana, karena saya cuma kebagian nyetir sementara Ami memandu jalan yang antah berantah. Mengapa saya bilang antah berantah, karena jalan yang kami lewati hanya cukup untuk satu mobil dengan trek yang amboradol. Mobil avanza yang saya kendarai melewati jalan yang seharusnya untuk mobil 4W atau motor trail. Kombinasi batu kali besar-besar, kadang terdapat kubangan cukup besar, memasuki hutan jati, lalu keluar ke ladang jagung. Ladang jagung disini merupakan best spot untuk melihat pemandangan yang jarang ditemui di Indonesia yaitu ladang jagung super luas layaknya film-film western country. Tak lupa dari ladang jagung ini kalian bisa melihat satu titik point yang paling tinggi dari sekelilingnya yaitu sang Gunung Gajah dari kejauhan. 

Kalau pernah lihat Uluru atau Ayers Rock di Australia (saya belum), ya Gunung Gajah ini mungkin sedikit potongan yang mirip, cuma lebih tropical aja dengan perkebunan hijau di sekelilingnya. Kami sudah mendarat di kaki gunung, nampak terlihat rata-rata yang datang adalah orang lokal. Tak seperti dikawasan wisata favorit lebaran yang lain, mobil ber plat B hanya mobil kami waktu sore itu, mobil lain berupa mobil bak yang mengangkut rombongan, selebihnya deretan motor yang sudah terparkir (hanya motor, parkir mobil di sisi jalan saja).  Harga masuk 3ribu rupiah per-orang, mobil gak pake biaya parkir, speechless.

 Pemandangan dari puncak Gunung Gajah, Pemalang

Pemandangan dari puncak Gunung Gajah, Pemalang

Mulailah kami mendaki Gunung Gajah, pastilah saya menganggap gunung ini tak terlalu tinggi, malah saya menganggapnya hanya seperti bukit. Yoai, saya pernah berkunjung ke Gunung Padang di Majalengka, atau Punthuk Setumbu di Magelang yang menurut saya tidak terlalu susah. Namun ternyata Gunung Gajah berbeda kawan, lebih menantang dan lebih nyata lelahnya. Derajat pendakian hampir 90 derajat, terkadang dibutuhkan tali tambang sebagai pegangan hampir seperti rock climbing. Merasa beruntung tubuh masih kuat melakukan pendakian dadakan, karena faktanya Citra tampil kece dengan sepatu converse ajah, dan saya cukup sendal jepit khas anak urban yang siap putus kapan saja. #salahkostum

 Pemandangan dari Puncak Gunung Gajah, Pemalang

Pemandangan dari Puncak Gunung Gajah, Pemalang

Setelah beberapa spot menangkap nafas dan melihat sekeliling kaki gunung gajah dari ketinggian, termasuk beberapa monyet hitam kecil yang bergelayut di pohon yang tumbuh di pinggir tebing, akhirnya kami sampai di puncak Gunung Gajah dengan waktu perjalanan sekitar 20 menit. Perkebunan dan lanskap di bawah kami begitu indah sore hari itu, terdapat ladang perkebunan dengan kontur tanah naik turun yang dibelah sungai besar yang terbentang. Kondisi puncak Gunung Gajah ini lebar, namun karena begitu rimbun dengan ilalang jadi hanya terdapat beberapa spot dimana terdapat bongkahan batu besar untuk kami duduk dan menikmati sekeliling Pemalang.

 Puncak Gunung Gajah, Pemalang

Puncak Gunung Gajah, Pemalang

Setelah selesai berfoto-foto, bersalaman dengan pengantin, dan membongkar tenda pelaminan, kami pun turun gunung dengan hati-hati. Sesekali kami menggunakan teknik rapelling namun tanpa harness, hanya fokus dengan kekuatan tubuh bagian atas. Beberapa menit turun kaki sudah bergetar, maklum habis bulan Ramadhan belum sempat jogging sore. Beberapa menit menjelang azan magrib kami sampai di parkiran dan kejutan lainnya datang dengan ban mobil kami bocor, jadilah kami harus ganti ban dulu ditemani petugas gunung yang sudah bersiap pulang yang akhirnya menunggu kami selesai mengganti ban. Kami memutuskan untuk lewat jalur lain yang less extreme yaitu lewat jalur mengarah ke kota Pemalang. Perjalanan kami pun diakhiri dengan makan malam Grombyang, makanan khas Pemalang, dan mampir di Seventea, sebuah cafe anak muda yang lagi hits menurut host kami hari itu Ami dan Novril.

 Memanjat Gunung Gajah, Pemalang

Memanjat Gunung Gajah, Pemalang

Mencari Teman Backpacking ke India

Mencari Teman Backpacking ke India

Mencoba Durian dan Ikan Asap Galala Ambon

Mencoba Durian dan Ikan Asap Galala Ambon