Kemegahan Chand Baori dan Ironi Agra / by Aziz Syam

Open Up India (Part 7)

23 Juli 2016

Siang ini jadwal kami memulai road trip ke Varanasi dengan total lama perjalanan empat hari tiga malam dan berhenti di tiga kota yang dilewati yaitu Agra, Orchha, Khajuraho! Nah hari ini kami menuju Agra dengan satu stop di desa Abhaneri, dimana kami akan mengunjungi Chand Baori Step Well yang terkenal karena selain step well terdalam di India namun juga merupakan tempat shooting film Batman, The Dark Knight Rises.

Setelah dari Jantar Mantar, kami bertemu dengan supir road trip kami di Hatroi Hostel Jaipur. Nama supir kami adalah Nizam, lelaki paruh baya yang sudah memiliki dua anak ini menyambut kami dengan begitu ramah, empat hari ke depan kami mempunyai travelmate baru!

 Jaipur - Varanasi Road Trip Route

Jaipur - Varanasi Road Trip Route

Sekitar dua jam perjalanan dan sempat berhenti makan siang di salah satu tempat makan di pinggir jalan, akhirnya kami sampai di sebuah desa sepi (saat kami tiba sekitar jam empat sore) bernama Abhaneri. Chand Baori Step well adalah lokasi yang telah saya idam-idamkan untuk mengunjunginya karena arsitektur step well di India sangat menarik dan instagramable.

Chand Baori

Chand Baori ini terletak di sebuah desa terpencil, berbanding terbalik dengan kemegahannya yang malah sempat menjadi tempat shooting film Hollywood. Suasana sepi di area pintu masuk, bahkan Nizam memarkirkan mobilnya sembarang di bawah pohon besar tepat didepan gerbang masuk bangunan tersebut.

 Chand Baori

Chand Baori

Masuk ke area bangunan kita membayar biaya retribusi yang dicatat dengan buku tulis tebal khas anak smk akutansi, setelah membayar dan menuliskan identitas, seorang guide langsung menghampiri (tanpa diminta), jadilah kami dipandu untuk keliling area step well ini. Area step well ini ternyata tidak begitu luas namun kedalamannya sekitar 13 lantai yang menjadikan Chand Baori ini adalah step well terluas dan terdalam di India. Sayangnya kami hanya  bisa melihat dari atas saja dan tidak bisa turun ke bawah karena ada pagar yang mengelilingi "sumur" ini.

Pada jaman dahulu step well ini digunakan sebagai sumur publik untuk orang-orang sekitar area tersebut untuk mendapatkan air bersih pada saat musim kemarau, anak tangga yang jumlahnya ratusan ini digunakan sebagai akses orang-orang untuk turun mengambil air, jadi gak pakai tali sama ember layaknya sumur rumahan yang biasa kita jumpai di kampung-kampung pulau jawa, mungkin karena dalamnya sumber air tanah di India ini jadi kalau pakai tali gak kebayang panjangnya.

Guide kami memperlihatkan foto-foto saat hujan datang dan bagaimana indahnya aliran air yang mengaliri tiap anak tangga, dan yang lebih supernya lagi bahkan relief pada bangunan yang berada pada sisi utara bangunan turut menyumbangkan keragaman aliran air yang semakin menarik untuk diamati. Setelah berkeliling sekitar satu jam akhirnya kami kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan, oiya disekitar Chand Baori ini juga terdapat perkampungan yang memproduksi kain tenun, tapi karena sudah terlalu sore dan memang tidak berniat untuk berbelanja di awal-awal perjalanan jadinya kami tidak sempat mampir.

 Konfigurasi Anak Tangga yang Menarik di Chan Baori

Konfigurasi Anak Tangga yang Menarik di Chan Baori

Burung Merak di India

Lanjut perjalanan dengan tujuan akhir hari ini Agra. Kami melewati beberapa kawasan pedesaan yang sangat damai dengan para petani india yang rata-rata kami lihat adalah perempuan-perempuan dengan sari-nya yang begitu kontras dengan hijaunya perkebunan yang terhampar.

 The Team di Pedesaan India

The Team di Pedesaan India

Oiya menariknya ternyata burung merak di India adalah hewan nasional di India yang tersebar bebas di berbagai perkampungan, jadi seringkali kami menjumpai sekonyong-konyong buruk merak di atas rumah orang bertengger dengan santainya, atau berjalan-jalan di pinggir jalan dengan anggun. Mengambil burung merak yang berkeliaran bebas di India, apalagi sampai menembaknya berarti harus siap masuk penjara kata Nizam. Hal tersebut yang jarang sekali kita temui di Indonesia, yang katanya burung elang saja yang menjadi ikon kota Jakarta, sepertinya belum pernah saya temui berkeliaran bebas di jalan.

Pengalaman Buruk Bermalam di Agra

Mobil kami mulai memasuki jalan-jalan sempit nan ramai, klakson mulai terdengar berkelahi satu sama lain, sepeda menyalip, bajaj tak mau kalah, yup kami sudah sampai Agra. Nizam berhenti di depan sebuah hostel yang buruk rupa, sebelumnya kami sudah sepakat dengan paket all in dimana kami tidak perlu mempermasalahkan penginapan dan makan siang pada perjalanan road trip ini, jadi ketika Nizam men-check-in khan kami, ya kami nurut saja.

Hostel tempat kami bermalam ini sangat bleh. Ketika masuk, di lobby terdapat sekitar empat orang yang duduk-duduk menonton TV, resepsionis pun tak peduli akan kedatangan kami, kami hanya dikasih kunci, ditunjukkan kamar, lalu selesai.

Lanjut ke kamarnya adalah ruangan tanpa jedela dengan kipas angin yang nemplok di langit-langit tepat di atas kasur, seperti kebanyakan kamar tidur di India. Agak gagal paham sama konsep kipas angin ini sebetulnya, apa mereka gak takut ketiban kipas angin waktu tidur, atau simpelnya tidur ngeliat kipas angin yang berputar kencang tempat di atas kita, bikin kita berasa kayak ikan yang lagi dibakar.

Duh! Engap sudah pasti, dan seprei kasur yang tidak lagi putih bahkan terdapat bercak kekuningan yang bikin tarik nafas. Lantai kamar mandi yang banyak kerak dibarengi lantai kamar itu sendiri yang berdebu super, kami pun terus menggunakan sendal di dalam kamar dan kamar mandi, jadilah itu lantai kamar jadi semakin becek. Kami hanya berharap malam ini cepat berlalu.

Tapi ternyata... perut berkata lain, akhirnya kami mencoba keluar untuk makan malam. Kami gak tau apakah kami berada pada area yang salah atau memang sekitar Agra memang seburuk ini, karena ironi sekali kami melihat gang-gang kecil yang ruwet berbanding dengan kemegahan dan populernya Taj Mahal di mata dunia. Makan pun tidak nikmat, kami duduk disebuah warung kecil rumahan dimana seorang anak menjadi pelayan kami malam itu, makanannya pun standart namun daripada kami menghabiskan waktu di dalam kamar setidaknya tempat makan ini punya rooftop yang ada angin segar.