Categories


Authors

archive Block
This is example content. Double-click here and select a page to create an index of your own content. Learn more
Jelajah Pulau Seram dengan Sepeda Motor

Jelajah Pulau Seram dengan Sepeda Motor

Mencari Damai di Sawai (Part 1)

April 30th, 2017

Pagi cerah menyambut kedatangan saya di Bandara Pattimura, Ambon. Bandara yang tidak terlalu besar dengan satu jalur conveyor untuk bagasi dengan pintu kedatangan yang masih bisa dimasuki oleh orang luar (bukan penumpang). Citra sudah menunggu di area kedatangan, pesawatnya dengan lion air datang terlebih dahulu dan pesawat saya datang lebih lama karena sempat transit di Makassar pada tengah malam.

Melihat jam di handphone menunjukkan pukul 7 pagi, dengan sinyal Indosat yang sudah menunjukkan kondisi naik turun, akhirnya saya memutuskan mengganti dengan perdana Telkomsel yang sebelumnya telah saya persiapkan dari Jakarta. Hal yang pertama kami lakukan adalah mengambil uang di ATM karena menurut info yang kami ketahui, tempat tujuan kami Desa Sawai tidak ada ATM, jangankan ATM, listrik saja baru ada setiap malam menjelang hingga pagi. 

Setelah memegang uang "semoga cukup" kami langsung menuju ke area tunggu bandara, kami sudah janjian dengan Pak Arif dimana kami akan menyewa motornya untuk perjalanan ke Sawai. Sewa motor dihargai Pak Arif 200rb rupiah perhari karena kami menyewa untuk keluar kota Ambon. Apabila hanya ingin menyewa di dalam kota, tarif yang dikenakan adalah 150rb rupiah. Sewa motor di Pak Arif ini sudah termasuk helm dan jas hujan untuk dua orang. Berharap motor yang lumayan besar dan gagah, kami hanya mendapatkan honda beat pop, satu pesan saya kepada motor ini sebelum berangkat sambil mengelus lampunya "yang kuat ya poppy".

 

Bermodal satu backpack besar yang dipanggul Citra (wonderwoman) dibelakang dan satu backpack kecil yang saya taruh di tempat kaki saya yang biking ngangkang maksimal selama perjalanan, Poppy siap meluncur. Google Maps offline yang saya sudah download sebelumnya akan menjadi panduan berkendara kami. Dari bandara, kami mengarah ke Pelabuhan Tulehu, pelabuhan tempat dimana ngedemprok sang Speed Boat yang akan mengantar kami ke Pulau Seram.

Pelabuhan Tulehu pagi itu tidak terlalu ramai, beberapa ibu pedagang nasi kuning mengajak kami untuk mengunjungi kios nya, akhirnya hati kami luluh dan memutuskan sarapan di salah satu kios tersebut. Harga nasi kuning 10rb seporsi dan kopi panas diberi harga 5rb. Kami harus menunggu hingga jam 11 untuk jadwal keberangkatan. Tiket speedboat 125rb perorang untuk kelas ekonomi, dan untuk kelas eksekutif...... bahkan saya gak kepikiran untuk menanyakannya.

Pengalaman gagal total kami untuk menghemat terjadi di speed boat ini, yang ternyata kami harus mengeluarkan uang 300rb ekstra. 100rb untuk kuli panggul yang menaikkan motor ke speedboat, 100rb untuk bagasi motor di speedboat, 100rb untuk kuli panggul menurunkan motor, kami dirampok. Tapi semua itu kesalahan kami karena mereka gak ngibulin masalah harga, tapi kami yang kaget karena tidak mengetahui informasi tersebut. Sewaktu proses research sangat jarang traveler yang naik motor ke Sawai dari Ambon, perjalanan ini memang sedikit nekad.

Setelah perjalanan laut selama kurang lebih dua jam, akhirnya kami berlabuh di Pelabuhan Amahai, Pulau Seram. Poppy akhirnya memulai perjalanan terberat selama hidupnya. Satu jam pertama jalanan mulus, rata, dan halus, dalam hati saya mengagumi Maluku yang memiliki jalan lebih bagus daripada jalan di pulau jawa bahkan di Jakarta sekalipun. Tiga jam selanjutnya, mendaki gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudra. Dari selatan ke utara Pulau Seram, melewati pegunungan di tengahnya, hujan, panas, kabut di atas bukit dengan lintasan burung elang, kami telah lalui semua itu.

Sempat nyasar ke Desa Saka yang merupakan desa nelayan di utara pulau seram, kita menanyakan kepada penduduk yang berada di desa tersebut. “Pak, kalau mau ke Sawai lewat mana ya?”

“Naik perahu atau bawa motor ini?”dengan wajah yang tertuju ke Poppy yang terlihat sudah merintih menahan lelah karena dinaiki dua manusia berbadan besar ini.

“Iya pak, kita mau bawa motor aja, gak naik perahu” Jawab saya.

“Oh masih jauh, ini keluar kampung kamu belok kiri, terus ikutin jalan, kamu bakal masuk lagi ke hutan dan gunung. Masih jauh!” Jawab bapak tersebut teags tanpa keraguan, yang keraguan tersebut malah muncul dipikiran saya, karena saya pikir setelah melihat laut pada bagian utara Pulau Seram, maka untuk mencapai Sawai saya hanya perlu menyusuri jalan di sepanjang pantai, tapi perkiraan itu salah besar.

Pinggiran utara Pulau Seram terdiri dari tebing karst khasnya yang menjulang, jadi dapat disimpulkan tidak ada jalan pinggir pantai yang kamu bayangkan kalau lagi di pantura Pulau Jawa. Alasan tersebut yang membuat kami berdua harus melajukan motor selama empat jam lagi dari Desa Saka ke Desa Sawai. Empat jam tersebut terdiri dari jalan berkelok-kelok di dalam Kawasan Hutan Lindung Manusela yang “ternyata” cukup menyeramkan dengan patahan jalan di banyak titik.

Hujan mengguyur kami keras, akhirnya kami mengeluarkan jas hujan yang sebelumnya tidak kami keluarkan karena hujan rintik tidak menggoyahkan kami untuk berhenti sejenak. Tak terhitung berapa kelokan yang kami lewati, beberapa kali kami meragukan jalan ini dengan bertanya dengan pengemudi yang lewat “Jalan ke Desa Sawai benar lewat sini?” dan jawabannya selalu benar dengan tambahan “masih jauh”. Pada akhirnya setelah tiga jam, saya melihat indikator bensin saya yang menunjukkan ke kolom merah. Saya dan Citra panik, otak mulai berfikir bagaimana menyelamatkan diri dari hutan yang tak ada ujungnya ini apabila kami kehabisan bensin.

Keadaan Kawasan Hutan Lindung Manusela sangat sepi, motor dan mobil yang berpas-pasan dengan kami dapat di hitung dengan jari. Setiap ada motor yang lewat kami membunyikan klakson sebagai pertanda persahabatan di jalur gelap dengan hujan dank abut yag menyelimuti. Tak jarang pohon tumbang di pinggir jalan yang belum ada penyelesaiannya. Sesekali kalau tanjakan, sakit sedihnya sama rintihan poppy, Citra saya paksa untuk memajukan badannya ke depan, entah secara sains ini berguna atau tidak tapi pada saat itu saya rasa ada sedikit perbedaan.

Didepan kami melihat segerombolan pekerja hutan siap pulang dengan truk yang mengangkutnya, kami berhenti dengan pertanyaan yang sama “Ini benar jalan ke Sawai?” Dengan tubuh yang kehujanan dan beberapa yang gemetar karena kedinginan, mereka menjawab berebutan dengan kombinasi “iya benar”, “lurus aja”, “masih jauh”. Pengemudi truk tersebut turun dari kursi kemudinya dan mendekati kami.

“Mau kemana?” Tanya supir tersebut.

“Ke Desa Sawai pak, masih jauh pak?” Tanya saya dengan mulut yang gemetar bukan karena takut dengan si bapak pengemudi namun hujan yang tak kunjung reda membuat badan saya gemetar, ditambah lagi pikiran yang was-was dengan ketirisan tangki bensin Poppy.

“Wah masih, ini nanjak terus aja ikutin jalan” jawab pak supir truk tersebut.

“Iya soalnya bensin kami tinggal dikit nih, takutnya gak nyampe Sawai” Jawab saya sambil menunjuk indikator bensin di stang depan.

Bapak supir tersebut melihat ke arah indikator tersebut, lalu wajahnya berubah iba “Oh enggak bentar lagi kok, udah gak jauh” Hahaha dalam hati saya ini bapak saking sedihnya dengan keadaan kami sampai menyemangati dengan fakta yang terbalik dari pertama kali dia ucapkan, agar kami tidak panik.

“Tinggal satu tanjakan lagi kok, abis itu tinggal turunan kamu nanti matiin mesin aja” Jawab pria tinggi dari atas truk menyambar pembicaraan kami dengan fakta yang dapat memberikan kami sedikit harapan.

Benar saja, setelah satu tanjakan (yang sebenarnya bukan tanjakan segitu tapi satu bukit dengan beberapa tanjakan yang menghabisan waktu setengah jam) akhirnya kami menemukan turunan tanpa henti pada setengah jam selanjutnya. Lega bercampur bahagia, opsi mematikan mesin saya urungkan karena saya tidak pernah melakukan hal tersebut dan skeptikal apabila nanti rem nya tidak berfungsi.

Enam jam berjalanan yang melehakan jiwa dan raga, menggunakan motor matic super kecil menyusuri Pulau Seram akhirnya selesai. Kami mendapati perkampungan nelayan di balik bukit bernama Desa Sawai, Penginapan Lisar Bahari dengan “garasi” berlapis koral putih menyambut kami. Staff Lisar Bahari membantu sang pengembara yang tubuhnya basah kuyup ini dengan membawakan barang langsung ke kamar kami.

Memasuki selasar yang berdiri di atas air, kami berdua langsung menuju teras depan bangunan. Horizon tanpa batas terpampang dengan kombinasi langit orange dan ungu senja itu. Kami tiba di kedamaian abadi Desa Sawai.

 

 Sunset Desa Sawai

Sunset Desa Sawai

Keliling Kampung Nelayan Sawai

Keliling Kampung Nelayan Sawai

Teaching & Traveling 1000 Guru di Pulau Tunda

Teaching & Traveling 1000 Guru di Pulau Tunda