Couchsurfing di Jaipur, India

Open Up India (Part 5)

22 Juli 2016

Pagi ini kami bertiga mulai berdiskusi tentang kelanjutan perjalanan setelah dua hari kemarin tidak ada waktu untuk berdiskusi dengan pikiran yag tenang. Rooftop penginapan yang kami inapi ini mempunyai dekorasi yang sangat menarik, mencirikan India dengan kesantaian-nya. Saran keluar dari Ajeet si pemilik penginapan / travel agent / a good friend of us, dia menawarkan jasa menyewa mobil untuk perjalanan kami selanjutnya ke Agra hingga Varanasi dengan berhenti dibeberapa kota yang Ajeet rekomendasikan. Tawaran ini akhirnya kami setujui dan pada akhir perjalanan kami merasa beruntung bertemu Ajeet karena rekomendasi nya benar-benar membuat kami menikmati keindahan India.

 Berdiskusi tentang perjalanan selanjutnya

Berdiskusi tentang perjalanan selanjutnya

Satu pesan yang saya ingat dari Ajeet dan yang juga akan saya rekomendasikan ke semua orang adalah, lakukanlah road trip menggunakan mobil di India dan kunjungi daerah yang tidak terlalu terkenal, karena kedamaian dari desa-desa di India akan memberikan warna tersendiri perjalanan kamu. Kamu boleh membanggakan berdiri di Taj Mahal, berkunjung ke kota-kota besar di India lainnya, tapi selama perjalanan ini tempat-tempat yang kami datangi yang paling berkesan justru sebaliknya, desa-desa India sangat menenangkan dengan spot turis yang tak kalah hebat dan sepi.

Couchsurfing di India

Setelah urusan merencanakan perjalanan besar beberapa hari ke depan beres, malam ini kami akan menginap di rumah couchsurfer yang rela menerima kami di Jaipur untuk satu malam. Menggunakan uber, akhirnya kami sampai dirumah Jitendra, pria asli Jaipur yang akan melanjutkan kuliahnya di Amerika di bidang science. Mengobrol dengan Jitendra begitu menyenangkan, karena background nya yang berkuliah di Amerika, jadilah ia dan Keket sangat nyambung membahas tentang negri paman Trump tersebut. 

Mencari host yang mau menerima grup seperti kami di couchsurfing memang butuh usaha ekstra, malah saya sempat ragu kalau menginap di tempat orang lokal dengan dua teman, nantinya kita malah asyik sendiri dan "nyuekin" si host, namun untungnya baik Keket, Ekal, dan Jitendra dapat berbincang satu sama lain, bahkan seru.

Kami pun curhat seru dengan pengalaman tak mengenakkan kami di Delhi dan rencana ke depan kami yang ternyata didukung oleh Jitendra untuk menyewa mobil. Jitendra juga bercerita dirinya akan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya, yup di India cerita siti nurbaya belum punah bahkan untuk ukuran pria yang open minded seperti Jitendra.

Jitendra menerima kami dengan senang hati di apartment yang tidak terlalu besar. Tempat tinggalnya ini punya dapur, balkon, ruang tamu, dan dua kamar, kami boleh tidur di salah satu kamar dengan satu kasur yang disediakan untuk kami bertiga. Jitendra juga memiliki roommates yang tak kalah baik nya Pradeep dan Natesh, bahkan hari ini Pradeep akan menemani kami bertiga untuk berkeliling kota Jaipur!

Keliling Kota Jaipur Day 1

Jawahar Kala Kendra

Tujun pertama kami adalah Jawahar Kala Kendra, sebuah culture and art center di Jaipur. Alasan kami ke tempat ini karena dari segi arsitektur, bangunan yang didirikan oleh pemerintah Jaipur untuk preservasi peninggalan seni kota Jaipur ini merupakan karya dari arsitek Charles Correa. Setiap sisi dari kompleks bangunan ini mempunyai analogi tersendiri, lebih lengkap atas penjelasan dari sisi arsitektur kalian bisa menghampiri website yang satu ini.

http://archinomy.com/case-studies/1867/jawahar-kala-kendra-jaipur-india

Serunya menjadi traveler dan seorang yang memiliki background arsitektur, kami sangat jatuh hati bukan hanya dengan kuil dan bangunan peninggalan sejarah masa lampau, namun contohnya bangunan yang satu ini, walaupun modern namun kekayaan arsitekturnya sangat menarik, dan nilai tambahnya bangunan dengan pendekatan ruang yang baik adalah sangat "intagram-able". Oiya masuk ke tempat ini gratis lho!

 Jawahar Kala Kendra

Jawahar Kala Kendra

Birla Mandir

Tempat kedua yang kami datangi adalah Birla Mandir, tempat ini adalah rekomendasi Jitendra dan Pradeep. Temple yang dilapisi marble putih ini berdiri megah di sebuah bukit. Kata Pradeep temple ini merupakan temple Dewa Wisnu. Hari sudah semakin sore saat kami tiba di Birla Mandir, dan sunset pun kami habiskan untuk berduduk santai di tangga temple ini. Momen-momen berbincang denga Pradeep dan menanti senja di depan kuil yang indah ini menurut saya merupakan momen titik balik untuk kami yang akhirnya dapat menikmati kedamaian India yang kami cari sebelumnya.

 Sunset in Birla Mandir

Sunset in Birla Mandir

Nahagarh Fort

Matahari telah terbenam, namun semangat kai belum padam untuk menjelajah kota Jaipur. Sistem sewa mobil yang disarankan oleh Pradeep dan Jitendra hari ini adalah, kami menyewa mobil selama enam jam dengan supir. Untuk harga sewa mobil ini kebetulan saya lupa tapi intinya apabila dibagi oleh kami bertiga lebih murah daripada menggunakan uber atau taksi berkali-kali. Maka dari itu untuk memaksimalkan sewa mobil ini kami lanjut ke Nahagarh Fort, yup pada malam hari ternyata benteng di atas bukit ini buka, dan kalau bukan karena info dari orang lokal yang tidak lain tidak bukan Pradeep, kami tidak akan tahu (tidak akan berani) untuk ke tempat tersebut saat malam hari.

Pada saat di pintu masuk Pradeep yang duduk di sebelah supir mengatakan pada petugas kalau kami orang lokal jadi dapat tiket untuk orang lokal yang tentunya lebih murah. Entah karena gelap atau kumis saya mulai menyerupai orang India, namun petugas tersebut percaya dan mempersilahkan mobil kami masuk.

Setelah memarkirkan mobil, kami pun mengikuti jalannya Pradeep, ia membeli empat beer dan kami pun mencari spot enak untuk berbincang di atas ketinggian dengan pemandangan kota Jaipur yang begitu indah. Malam itu begitu cerah, lampu kota nampak berkilauan dari atas benteng ini, kami bertukar jenis beer lokal yang ada di genggaman kami, tak lupa kami memesan makanan kecil.

 Nahagarh Fort at Night

Nahagarh Fort at Night

Manurut Pradeep, orang India adalah pengagum alkohol, terlihat dengan botol beer besar yang ia pegang sementara kami hanya meminum botol kecil dan berhenti setelah muka Keket yang berubah kemerahan. Setelah mengobrol dan menikmati ketinggian di Nahagarh Fort, tak lama Jitendra menelfon Pradeep dan mengatakan "makan malam sudah siap". Well wow Jitendra seperti orang tua kami di India, kami pun tak sabar ingin mencicipi masakan Jitendra yang sebelumnya dia bilang akan memasak Lamb Curry. YEAH!

Dinner Time!

Akhirnya sampai rumah, dan wow gule kambing bikinan Jitendra bikin ngiler parah. Setelah cuci-cuci akhirnya kami makan malam bersama. Sebelumnya Jitendra menjelaskan bahan-bahan yang dia pakai, kami sempat ke dapurnya dan melihat bumbu-bumbu mejik yang dia taro di gule tersebut. Makanan pendampingnya pun bukan nasi tentunya, tapi roti bakar yang bentuknya bulet. Yup rotinya di bakar dan kombinasi dua makanan ini istimewa banget dimulut.

Saat kami menyantapnya, beuuh kami sampai merem-merem sakin enaknya, dan ini makanan yang paling enak sampai saat ini kami makan di India. Gule kambing ini bumbu dan rasanya jauh beda dengan gule kambing khas Indonesia atau padang, walaupun sama-sama kuning dan berminyak gitu. Dagingnya, beuuuuh lembutnya minta ampun! 

 Gule Kambing / Domba bikinan Jitendra

Gule Kambing / Domba bikinan Jitendra

Sialnya kami hanya menginap satu malam dengan couchsurfer asik ini, besok kami harus melanjutkan perjalanan ke Varanasi dengan singgah di berbagai kota. Terima kasih untuk pengalaman singkat namun persahabatan yang tidak singkat tentunya. Couchsurfing selalu memberikan warna yang menarik dari sebuah perjalanan, yang satu ini merupakan oase dari perjalanan kami yang beberapa hari yang lalu begitu muram, yup titik balik kebahagiaan dari sebuah perjalanan kami di India bermula dari sini. Thank you Jitendra and Pradeep!