Keliling Kampung Nelayan Sawai

Mencari Damai di Sawai (Part 2)

May 1st, 2017

Pagi di Sawai adalah pagi terbaik yang bisa kamu dambakan dalam hidupmu. Berberda dengan perspektif banyak orang tentang Maldives, Ora Resort, atau segala tujuan bulan madu yang mendambakan privasi tinggi dengan pulau pribadi, pagi di Sawai merupakan kombinasi antara penduduk nelayan yang memulai aktifitas pagi dengan tenang. Di bawah langit yang masih disinari matahari yang malu-malu, beberapa nelayan berpergian dengan sampan kecilnya dan dayung yang tak bikin kuping sakit, melewati teras kamar kami dengan sapaan kecilnya. Ikan kecil berenang santai di bawah kamar dan teras kami dengan cahaya matahari terkadang memantulkan cahayanya di permukaan air dan menyoroti interior atap jerami di langit-langit ruangan.

 Teras Kamar Lisar Bahari, Sawai

Teras Kamar Lisar Bahari, Sawai

Sewaktu kunjungan kami tahun 2017, harga per-kamar penginapan Lisar Bahari 330rb dihitung per-orang. Biaya tersebut sudah termasuk makan tiga kali sehari dan snack sore. Harga yang sangat pas untuk kantong kami, dibandingkan menginap di Ora Beach Resort yang perkamarnya sudah sekitar satu juta rupiah per-orang. Staff Lisar Bahari yang ramahnya keterlaluan juga merupakan penduduk asli Desa Sawai, pada hari libur yang mengantarkan makanan biasanya nona yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan menengah atas, jadi mengeluarkan uang untuk bisnis lokal rasanya tidak akan segan.

Setelah minum kopi dan roti selai yang telah disediakan, saya tak menyia-nyiakan kesempatan yang jarang saya miliki yaitu langsung nyebur dari teras depan kamar. Sekalian mandi pagi saya berenang di kolam tanpa batas yang tidak memiliki ombak. Disekitar penginapan tinggi permukaan air sekitar 2-3 meter namun tidak begitu banyak terumbu karang, rata-rata hanya pasir putih yang dapat terlihat, jadi tak perlu ragu untuk melompat dari dermaga ataupun teras kamar karena akan aman.

Hari ini kami berdua memang mengosongkan jadwal, sebenarnya ada opsi untuk one day trip keliling pulau sekitar Sawai serta Ora Beach Resort, namun karena kami cuma datang berdua dan saat itu penginapan Lisar Bahari sepi pengunjung (tak ada tamu lain selain kami) jadi kami tidak punya teman untuk share cost one day trip tadi, dan kebetulan menurut info dari Bapak Dino, sore hari nanti akan ada tamu dua orang dan kalau kami beruntung kami bisa patungan trip tersebut untuk esok hari. Jadilah hari ini kegiatan kami hanya berenang, leyeh-leyeh di hammock, dan sore hari nya kami berencana untuk berjalan keliling desa.

 Makan Siang ala Chef Lisar Bahari, Sawai

Makan Siang ala Chef Lisar Bahari, Sawai

Setelah makan siang, kami sempat berleyeh-leyeh di hammock dengan buku masing-masing dan mungkin kasihan melihat kami yang seperti tak ada kerjaan (padahal membaca dengan santai itu pekerjaan yang kami idam-idamkan saat traveling), Pak Ali menghampiri kami dan menawarkan sampan kecilnya untuk dipakai oleh kami untuk keliling dekat-dekat penginapan. Dengan semangatnya (apalagi gratis) kami menerima tawaran Pak Ali, akhirnya kami mencoba menaiki sampan kecil nan labil ini. Sedikit sulit untuk kami menyeimbangkan tubuh dengan si sampan yang hanya cukup untuk dua orang ini. Bermodalkan satu dayung akhirnya kami berangkat muter-muter keliling pesisir dengan resiko sampan terbalik sangat besar.

Dengan kegigihan dan percaya diri yang penuh, dua tiga rumah terlampaui dengan sampan kecil ini. Sesekali jantung dibikin shock dengan hempasan gelombang air yang berasal dari perahu motor dikejauhan. Perpaduan lagu John Mayer dan Jack Johnson menemani dayung-dayung sore kami, sebuah ketenangan dan kesederhanaan yang diimpikan yang berbeda drastis dengan jalanan ibu kota tau KRL Jakarta, sore itu yang kami nikmati hanya hijaunya air yang tenang dengan dayung yang menyentuh air dan membuat sedikit gelombang tanpa huru hara. Setelah sempat mampir di salah satu bale-bale di tengah laut yang letaknya masih dekat dengan tebing akhirnya kami kembali ke dermaga Lisar Bahari dengan lambaian tangan Pak Ali turut bahagia melihat muka kami berdua yang tak henti tersenyum.

DSC_0248.JPG

Setelah istirahat beberapa menit dan ganti baju, kami melanjutkan acara (yang kami buat sendiri) yaitu berkeliling kampung. Perkampungan nelayang di Sawai terdiri dari satu masjid di tengah perkampungan dengan rumah yang beberapa ada yang dibangun di atas tanah dan beberapa lainnya di atas air. Salah satu yang menarik dari kampuk ini adalah terdapatnya pemandian umum di belakang kampung dekat tebing, air di pemandian ini merupakan sumber air tawar dengan campuran sedikit air laut yang asin, saat sore hari kalian akan menemui penduduk yang hilir mudik menuju pemandian umum ini untuk mandi sore.

Kami berdua terus berjalan ke arah luar kampung, tepatnya ke arah bukit dekat pintu masuk kampung yang dimana terdapat sebuah sekolah di atas bukit tersebut. Dari atas bukit ini kalian dapat melihat keseluruhan Desa Sawai yang tidak begitu besar, kalian akan menjadi saksi mata Desa Sawai yang dihiasi anak bocah yang berlari di gang-gang kecil diantara rumah-rumah beratap merah berpadu dengan matahari yang siap untuk pamit. Jangan lupa juga untuk coba mendaki ke bukit seberang sekolah tersebut, dan kalau kalian jeli untuk mencari maka kalian akan menemui teras/rumah pohon di bukit tersebut, coba duduk sejenak dan nikmati keindahan alam negeri Sawai saat petang.

 Desa Sawai dari Atas Bukit

Desa Sawai dari Atas Bukit