One Day Trip Sawai

Mencari Damai di Sawai (Part 3)

May 2nd, 2017

Sore hari kemarin ternyata benar ada dua tamu yang datang dan menginap di Lisar Bahari, malamnya kami langsung berdiskusi dan akhirnya mereka berdua setuju untuk patungan one day trip keliling spot wisata Sawai + Ora Beach. Pagi ini setelah sarapan kami langsung menuju dermaga untuk naik ke perahu yang akan dikendarai dan dipandu oleh Bang Aji. Langit hari itu begitu mendukung, kami tak sabar menikmati keindahan pesisir utara Pulau Seram.

Destinasi pertama adalah telusur Sungai Salawai dan melihat cara pembuatan sagu. Kapal berpindah dari laut biru ke area muara yang ditumbuhi pohon sagu disekitarnya, beberapa menit kemudian kami sudah berada di area Sungai Salawai dengan air yang berwarna hijau kecoklatan. Tak lupa perbukitan Pulau Seram menjadi background panorama didepan mata, ini seperti penelusuran Sungai Mekong namun dengan level yang dinaikkan dua kali lipat. 

 Stuck in The River in Indonesia

Stuck in The River in Indonesia

Sungai Salawai cukup besar namun atmosfer yang mencekam bercampur kesunyian tidak bisa terlepas dari sungai ini, tak heran tempat ini adalah habitat si raja sungai yaitu buaya. Hanya sekali (dan untuk pertama kalinya) saya berkesempatan melihat buaya yang langsung masuk ke dalam air sesaat perahu kami menghampirinya. Posisi saya yang berada didepan perahu pun membuat saya seseorang yang beruntung, karena penumpang lainnya tak melihat sedikitpun penampakan buaya tersebut. 

Kami sempat tersendat karena terdapat pohon sagu yang tumbang dan menutupi aliran sungai, ada satu lagi perahu wisata yang telah tiba lebih dulu di hambatan pohon sagu ini, sehingga salah satu guide dari perahu tersebut sudah turun ke sungai untuk memotong sebagian batang pohon sagu tersebut, agar perahu punya ruang untuk lewat. Perahu wisata tersebut hanya mengangkut dua bule belanda yang cukup berumur, kedua opa ini akhirnya bertemu kami di beberapa titik wisata pada hari itu.

Sampai di tempat pembuatan sagu tradisional yang terletak tepat di pinggir Sungai Salawai, kami pun turun dari perahu untuk "belajar". Yup, belajar membuat sagu secara tradisional, pertama batang pohon sagu di serut menggunakan mesin (lah udah modern), lalu serbuk kayu yang telah diserut disaring, didorong-dorong ke saringan hingga ada air yang membawa partikel halus, setelah air tersebut dibiarkan selama beberapa jam. Endapan di dalam air tersebut merupakan sagu basah yang nantinya menjadi sagu bubuk. Ngerti? Ok lanjut ke spot selanjutnya.

Kami sempat berhenti di sebuah pulau untuk mengambil kelapa muda, kata Bang aji perkebunan kelapa tersebut adalah milik Pak Ali sebelum beliau membuka penginapan Lisar Bahari, dan itu kebon luaaaas bener. Bang Aji langsung memanjat pohon kelapa tanpa pengaman (ya masa pake hernes dulu), sedangkan saya dan Citra malah tertarik dengan satu rumah tak berpenghuni di atas air yang sudah lapuk termakan usia, kami menyebutnya rumah DP 0% (you know why?). Setelah mendapatkan cukup kelapa ijo, kami beranjak untuk makan siang di Pulau Sapalewa.

Pulau tak berpenghuni ini adalah pit stop kami untuk makan siang dan yang bikin tambah asik adalah ternyata Bang Aji membawa ikan segar yang masih mentah dan ikan tersebut baru dibakar di pulau tersebut. Sambal dabu-dabu yang dibawa dari penginapan menjadi pelengkap ikan segar yang baru saja matang dibakar, di pulau berpasir putih tersebut, makan sesederhana ini rasanya sperti di surga dunia.

 Pulau Sapalewa

Pulau Sapalewa

Setelah perut terisi penuh, kami melanjutkan menjelajah menjelajah beberapa tempat snorkeling, spot snorkeling tengah laut, di pinggir dekat tebing yang disebut Tebing Hatupia, dan yang terakhir yang paling mengagumkan adalah masuk ke goa bawah laut. Pertama kalinya saya free dive sekitar sepuluh detik untuk masuk ke dalam tebing, dimana didalam tebing tersebut terdapat goa yang bebatasan lansung dengan permukaan air. Didalam goa tersebut tidak terlalu gelap karena mendapat sinar matahari dari lobang di atasnya, jadi kerennya ada sebagian permukaan air yang menyala  dalam gelap atau nama kerennya glow in the dark. Walaupun keren, tapi karena saya tidak terlalu nyaman dengan ruang sempit semacam goa, jadi gak ada lima menit saya sudah ngajak Bang Aji keluar, karena saat itu hanya saya yang tertarik melihat goa tersebut, sementara tiga orang lainnya termasuk Citra memilih stay di perahu.

Hari sudah semakin sore, kami melanjutkan perjalanan menuju Mata Air Belanda. Masuk ke kawasan mata air belanda ini kami harus membayar 50rb per perahu yang berlabuh. Letak mata air Belanda tak jauh dari Ora Beach Resort, dan ternyata di tempat ini juga menyediakan pilihan tempat menginap yang lebih murah dari Ora Beach Resort. Mata Air Belanda merupakan sebuah sumber mata air tawar yang mengalir langsung ke lautan yang tak jauh dari mata air tersebut. Mata air tersebut pun akhirnya membuat aliran sungai air tawar yang dingin (banget) dan tidak terlalu panjang menuju pantai dan bertemu air laut yang asin.

 Mata Air Belanda

Mata Air Belanda

Sampai di lokasi kami langsung "bilas" setelah seharian berenang di laut, karena hanya tempat ini satu-satunya kolam air tawar yang tersedia, terlebih lagi kualitas airnya yang begitu jernih. Setelah berenang di kolam air tawar, kalian bisa beristirahat dengan kopi panas yang tersedia di warung yang berada di lokasi ini, hanya dengan 10rb rupiah untuk segelas kopi panas rasanya pas setelah seharian bertualang, dan juga sebagai bekal untuk tidak membeli makanan di Ora Beach Resort, karena segelas kopi di Ora Resort bisa empat kali lipat harga tersebut.

Akhirnya kami mengakhiri perjalanan hari ini di Ora Beach Resort, salah satu spot lokasi wisata dengan ketenarannya yang membuat pesisir pantai utara Pulau Seram terkenal baik dalam negeri hingga luar negri. Masuk ke area Ora Beach kami harus membayar 50rb rupiah per-orang, dan mendapat sebutan "tamu foto". Kami hanya bisa berfoto di area dermaga dan pantai saja, kami tidak bisa masuk ke area cottage atas air, karena kawasan tersebut hanya untuk tamu resort saja.

Pemilihan lokasi resort yang satu ini memang patut diacungi jempol. Dengan deretan cottage atas lautnya yang memiliki background perbukitan yang menyambut awan, dikombinasikan dengan biru tosca laut di pantainya, membuat spot ini merupakan pilihan terbaik untuk bulan madu. Harga yang begitu menjulang rasanya terbalas dengan kenikmatan alam yang tanpa celah, mungkin bukan untuk saya dan Citra saat ini, karena kami sudah terlanjur jatuh cinta dengan Desa Sawai akan kedamaiannya (baca: keterjangkauannya), namun mungkin untuk orang lain diluar sana Ora Beach Resort is never a bad idea.

 Dermaga Ora Beach Resort

Dermaga Ora Beach Resort

One day trip hari itu-pun harus berakhir bersamaan dengan matahari terbenam, kami kembali ke Lisar Bahari sekali lagi dengan senyum lebar nan puas meng-explore pesisir utara Pulau Seram. Sedih rasanya esok hari harus kembali ke kota Ambon (belum lagi perjalanan darat yang harus ditempuh).