Pemandu Lokal India yang Super Pede!

Open Up India (Part 9)

27 Juli 2016

Tujuan kami berikutnya adalah kota Orchha, kami akan menginap satu malam disana. Perjalanan darat dari Agra ke Orchha lumayan panjang, namun sepanjang perjalanan kami dapat melihat suasana "pedesaan" dari India yang ternyata tidaklah terlalu buruk dan menyeramkan. Sebelum sampai ke Orchha, Nizam membelokkan rute nya sedikit untuk berhenti di Sonagiri Jain. Menurut wikipedia Sonagiri Jain ini adalah hamparan bukit yang bertengger kuil-kuil bagi penganut ajaran Jainism (beda lagi tuh). Kami sama sekali gak tau akan keberadaan tempat ini, lokasi ini seratus persen inisiatif si Nizam aja, akhirnya dari tempat parkiran, turunlah kami menuju pintu gerbang masuk kawasan kuil-kuil tersebut.

 Sonagiri Jain

Sonagiri Jain

Guide lokal India super pede!

Baru saja kami turun dari mobil, seorang perempuan (mungkin kalau dikira-kira umurnya masih belasan tahun) menghampiri kami dan langsung menggiring kami masuk ke area kompleks kuil-kuil (tanpa diminta tentunya). Setelah gerbang masuk, perjalanan menanjak, karena letak kuil-kuil yang tersebar dan berurutan satu persatu menuju puncak. Dengan bahasa tubuh dan ekspresi senyum sumringah si Maesaroh (bukan nama asli) mulai menjelaskan sejarah tempat ini dan urutan kuil-kuil dari bawah sampai atas yang merupakan rentetat dari langkah-langkah berdoa umatnya.

Selama si Maesaroh menjelaskan Keket cuma manggut-manggut sok ngerti, saya cekikikan sendiri, sedangkan Ekal malah sibuk motret dan menjaga jarak. Bagaimana tidak lucu karena si Maesaroh ini dengan pedenya menjelaskan ke kami menggunakan bahasa lokal India, kami mengajukan pertanyaan pun dibalas dengan bahasa India yang kami juga udah bodo amat mau bener atau enggak jawabannya!

Setelah berkeliling kurang lebih setengah jam, saatnya kami balik dan tentu saja si Maesaroh ini meminta upah atas informasi absurd yang baru saja Ia bagikan. Kami memberikan beberapa rupee, dan dia sempat minta tambahan dengan cengar-cengir, kami pun kekeuh memberikan Maesaroh upah seadanya, hingga akhirnya Nizam melerai kami dengan Maesaroh dan menjalankan kembali mobilnya.

Mengingat kembali kisah kami dengan Maesaroh rasanya sungguh jenaka sekaligus miris. Jenaka karena bagaimana kami bisa sabar manggut-manggut selama hampir setengah jam pura-pura ngerti apa yang dibicarakan Maesaroh. Miris nya kalau saya bisa berandai pendidikan yang layak untuk Maesaroh sehingga Ia bisa belajar bahasa inggris dan menerapkannya untuk memandu turis yang berkunjung, pasti akan menjadi pendapatan berlipat untuknya.