Road Trip Sawai - Ambon

Mencari Damai di Sawai (Part 4)

May 3rd, 2017

Hari yang tidak ditunggu akhirnya datang, hari kepulangan kami dari Sawai. Pagi ini Om Boss telah menunggu di dermaga Lisar Bahari dengan Poppy (motor kami) yang telah di naikkan ke perahu miliknya. Yup, setelah ngobrol dengan orang-orang di Lisar Bahari tentang perjalanan kami sewaktu menuju ke Desa Sawai menggunakan motor dan melewati Hutan Lindung Manusela, pertama semua cukup kaget, beberapa berkata "waduh, saya aja gak berani lewat situ" yang cukup bikin kami ikut shock. Akhirnya mereka menyarankan untuk membawa motor tersebut dengan perahu hingga ke Desa Saka (saya sempat mention di cerita sebelumnya), yang kami terima tawaran tersebut dengan tangan terbuka, karena jujur perjalanan kemarin cukup menguras waktu dan tenaga.

 Pemandangan Pagi Perjalanan Sawai ke Desa Saka

Pemandangan Pagi Perjalanan Sawai ke Desa Saka

Pagi yang cerah mengantarkan kami pulang dengan kapal kecil Om Boss dengan pemandangan deretan tebing di sebelah kiri kami yang disinari matahari pagi. Perjalanan sekitar 30 menit pun tak terasa, akhirnya kami sampai di pantai Desa Saka. Menurunkan motor tersebut dari kapal-pun bukan perkara mudah, akhirnya kami di bantu warga lokal Desa Saka untuk menurunkan Poppy.

 Pantai Desa Saka

Pantai Desa Saka

Kami tidak menunggu lama untuk memulai perjalanan kami ke Pelabuhan Waipirit. Tujuan kami berbeda dengan hari keberangkatan kami, setelah curhat (lagi) dengan orang-orang Lisar Bahari dan tamu lokal, kami mendapat saran untuk menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Waipirit dibandingkan naik kapal cepat dari Pelabuhan Amahai, karena apa? Tentunya karena peristiwa membawa motor dengan kapal cepat akan menguras uang 300 ribu tambahan, sedangkan naik kapal ferry dari Pelabuhan Waipirit hanya berkisar 30rb untuk motor dengan dua penumpang. Namun memang perjalanan darat ke Pelabuhan Waipirit akan menghabiskan waktu lebih lama, demi uang kami yang sudah tiris kami rela menghemat 270rb untuk perjalanan dua jam lebih lama.

 Perjalanan Darat Pulau Seram

Perjalanan Darat Pulau Seram

Keadaan di kapal ferry yang kami tumpangi begitu penuh dengan penumpang dari ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak bayi yang tak kunjung reda dengan tangisannya, berpadu dengan suara pedagang asongan mondar mandir menawarkan makanan kecil seperti kacang, kerupuk, dan telur rebus membuat perjalanan laut tadi tidak membosankan. Kurang lebih satu jam perjalanan laut menggunakan kapal ferry dari Pelaubuhan Waipirit, akhirnya kami sampai di Pelabuhan Hunimua di Ambon bagian timur. Saatnya menunggangi kembali Poppy mengarah ke kota Ambon, akhirnya kami kembali ke peradaban manusia masa kini.

Di tengah perjalanan kami melewati Pantai Natsepa, pantai dengan berpaduan pasir putih dan biru muda air lautnya, membuat kami tak ada pilihan lain selain berhenti untuk menikmati keindahan pantai yang begitu populer bukan hanya pemandangannya, namun juga rujaknya. Rujak Natsepa, membuat liur dimulut bereaksi hanya dengan menyebut namanya, yang paling berbeda dari rujak natsepa dengan rujak lainnya adalah sambal kacang nya yang manis, pedas dengan potongan kasar kacang yang tidak pelit. Hanya dengan uang 10 ribu kamu sudah bisa menikmati satu porsi Rujak Natsepa yang terkenal seantero Ambon ini.

Setelah menghabiskan rujak natsepa dan makan siang, kami terus melanjutkan perjalanan ke pusat kota. Ternyata kota ambon begitu unik dimata saya, melihat kontur kota yang berbukit seperti berada di dataran tinggi, namun berpadu dengan laut yang membelah kota tersebut. Mungkin banyak orang berfikir Ambon adalah kota kecil di sebelah timur Indonesia, namun ternyata kota ini sangat hidup dan ramai, tak jarang kami menemui kemacetan di tengah kota apabila dekat dengan jalur pusat perbelanjaan. Angkot disini juga merajalela layaknya angkot di Bogor, belum lagi arah jalan yang terkadang satu arah yang membuat pelancong sedikit kebingungan mencari tempat tujuan.

 Rujak Natsepa

Rujak Natsepa

Kami sampai di tempat bermalam yaitu Stori Hotel Ambon yang kami booking saat di kapal ferry (karena saat itu kami beru mendapatkan koneksi internet). Kamar termurah di Stori Hotel Ambon seharga 250ribu rupiah dengan fasilitas yang lumayan apik dan bersih, walau hanya seluas sekitar 12 meter persegi per kamar namun AC dingin, kamar mandi bersih, dan kasur empuk sudah cukup bagi kami untuk melepas lelah atas perjalanan gila kami beberapa hari kemarin.

Malam terakhir di Maluku kami habiskan hanya untuk duduk santai di salah satu cafe terkenal di kota Ambon yaitu Cafe Sibu-Sibu. Cafe yang menurut kami "Maluku" banget ini karena dindingnya full dengan artis atau penyanyi terkenal yang berasal dari Maluku, mulai dari Glenn Fredly hingga Ruth Sahanaya. Makanan dan minuman yang disajikan pun sebagian besar adalah makanan lokal Maluku, dan tak lupa selalu ada live music yang melantunkan lagu cukup jadul untuk telinga saya, tapi setidaknya suara penyanyi cafe di Ambon tidak bisa dipungkiri "kemegahannya" I AM SOLD.