Teaching & Traveling 1000 Guru di Pulau Tunda

"when was the last time you did something for the first time"

Unknown quote tersebut terngiang di kepala, ngeliat kerjaan dan hidup yang gitu-gitu aja. Pas banget lagi mengingat kapan terakhir kali saya mencoba sesuatu yang baru, teman nge-post tentang event 1000 Guru yaitu Teaching & Traveling (TnT). Konsep 1000 Guru intinya berbagi dengan mencoba mengajar (jadi guru) ke sekolah pedalaman yang kurang perhatian, biasanya diselipkan dengan acara traveling ke tempat wisata di sekitar daerah tersebut.

Singkat cerita saya daftar Teaching & Traveling dari 1000 Guru Tangerang yang dekat dari rumah. Sewaktu mendaftar pake acara nulis essay segala, yang saya pikir cuma formalitas (semoga bukan). Karena menurut saya ini sistem yang bagus banget untuk menyaring orang-orang terbaik, kalau perlu ada wawancara biar tambah susah. Menunggu beberapa minggu eng-ing-eng, saya keterima (I know it). Pertama saya yakin keterima karena ada temen saya yang jadi panitia nya, saya benci nepotisme tapi saya ga tau temen saya benci juga atau engga hahaha. Kedua walau tanpa bantuan teman saya, saya yakin essay saya cukup bagus! TRUTH

Teaching

 TNT 1000 Guru Tangerang

TNT 1000 Guru Tangerang

Perjalanan ke lokasi menggunakan tronton dengan kursi somplak yang bikin penumpangnya sepanjang jalan bolak balik setengah jongkok karena menyesuaikan tubuh dengan kaki kursi yang terbuat dari besi yang patah. (I can't stop laughing about that). Siang terik akhirnya saya dan teman-teman baru yang berisik ini sampai di sekolah MI Nurul Falah di daerah yang saya lupa namanya. Baris berbaris, sambut menyambut lalu akhirnya masuk kelas.

Sebelum hari H kelompok pengajar sudah dibagikan bersama materi yang akan diajarkan kepada murid. Terima kasih kepada panitia, saya dikelompok mengajar untuk kelas dua SD (gampang). Tema dari TNT kali ini adalah mengenai profesi, jadi ada materi tambahan yaitu memperkenalkan profesi masing-masing dari para relawan.

Saya kira akan mudah menjelaskan profesi Arsitek, namun skenario nya berubah menjadi begini, "kalau kamu mau jadi arsitek kayak kakak, kalau temen kalian mau bikin rumah nanti kamu yang gambarin" dengan balasan nanar bengong dari murid (saya pun lelah). Tapi saya masih sangat beruntung atas ke-profesi-an saya, teman relawan sekelompok lebih miris lagi yang harus menjelaskan profesi mereka yaitu, editor, kepala unit, teller bank, dan apoteker yang berakhir dengan sebutan dokter oleh murid kelas dua yang ngeselin ini.

At the end THAT WAS FUN! Lihat senyum anak-anak yang nurut, penuh impian dan kecerian waktu kudu nari-nari pas ice breaking dengan lagu kacangan khas playgroup. My first experience to talking in public full of kids and teaching them, check.

Traveling

Salah satu yang bikin saya ngiler sama kegiatan ini karena apalagi kalau bukan TRAVELING. Kali ini TNT nya ke Pulau Tunda, pulau yang masih berada di provinsi Banten. Sejarahnya (tumben nih saya bicara sejarah, kebenarannya patut diragukan) pulau ini adalah pulau tempat belanda sebelum masuk ke Pulau Jawa mampir dulu disini, itu kenapa dinamakan Pulau Tunda (sekali lagi patut diragukan).

Beberapa garis pantai Pulau Tunda punya pantai berpasir namun sayangnya kotor dan kurang perhatian (tipikal pantai yang deket-deket ibu kota). Tapi katanya pantai ini dikelilingi sama terumbu karang yang ciamik. Setelah menginap semalam di Pulau Tunda, esok paginya kami mulai explore pulau dan snorkeling. Buat saya snorkeling di Pulau Tunda tidak terlalu asik. Tipikal pulau yang punya karang yang bagus banget dan masih alami mirip Pulau Bunaken, yang sedih adalah jarak terumbu karang dan permukaan air sebagian besar cuma berjarak 20cm (siang hari). Jadi ya susah buat snorkeling dari permukaan laut, yang ada malah beset-beset badan. Overall oke sih, I give 2 stars from 5 stars to snorkeling in this island.

Pengalaman yang bikin rese' lagi, saya dapet injuri waktu snorkeling disini. Lupa ngeliat bawah, langsung tancap nyelem eh ternyata karangnya deket banget, alhasil terumbu karam dapet bogem mentah dari tangan saya, yang kalah sudah pasti tangan saya. Jari tengah tangan kanan robek sedikit, tapi ga dibawa ke dokter, beberapa hari bengkak yang kemungkinan dislek di daerah sendi. Yasudahlah.

 Perjalanan Menuju Pulau Tunda

Perjalanan Menuju Pulau Tunda

Teman Baru

Sebenarnya cerita yang saya tulis ini hanya sebagian kecil dari pengalaman saya ikut acara TNT 1000 Guru Tangerang. Pengalaman sesungguhnya lebih dari itu, terutama saya menemukan teman-teman baru yang unik. Para profesional muda yang masih peka akan sekitar nya. Anak-anak muda ini seratus persen cinta bangsa dan tanah airnya, mau "melek" dan ikut acar ini aja menurut saya satu bukti mereka orang-orang hebat. Like cherry on top ion ice cream, they have a lot of FUN! Kebahagiaan yang ga mahal dan dari hati bukan materi.

Ingat para volunteer ini jadi inget lagu Astaga by Ruth Sahanaya. "Sementara yang lainnya hidup seenaknya, seakan waktu tak kan pernah ada akhirnya. Hanya mengejar kepentingan diri sendiri, lalu cuek dengan derita sekitarnya." Sebenarnya lirik lagu itu sangat nyentil buat anak muda seumuran saya, karena itu realita yang saya lihat setelah lulus kuliah dan bergabung dengan dunia kerja. Melihat teman-teman baru saya ini, para volunteer yang dipertemukan di TNT bisa bikin Ruth Sahanaya ga perlu ngomong ASTAGA! Tenang mbak UT masih ada bibit unggul disini ;)

Setelah ikut acara tersebut, perjalanan pulang saya sadar yang teringat di memori saya adalah momen mengajar dan kebersamaan bersama para volunteer. Mungkin ini ada kaitannya dengan profil Pulau Tunda yang emang "biasa" aja sebagai temapat wisata, tapi mungkin memang pengalaman mengajar dan teman baru tersebut yang memang menyita perhatian saya selama disana.

Kadang saat traveling memang tujuan tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Tujuan saya yang cuma suka traveling atau snorkeling ke tempat baru, bukan 100 persen minat untuk ngajar, malah dialihkan menjadi mengajar yang jadi poin utama yang bakal saya rindukan dari perjalanan ini. Turut sedikit berperan dalam pendidikan bangsa dan "melek terhadap generasi penerus bikin saya bangga kepada diri sendiri. Terima kasih pengalaman baru yang unik.